PASAMAN BARAT – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Ranah Batahan, tepatnya sekitar lebih kurang radius 100 meteri di samping Kantor Polsek Ranah Batahan,melainkan telah menjadi tamparan keras bagi wajah penegakan hukum di Pasaman Barat.
Dua aktivis muda Pasaman Barat, Muhammad Arsyad dan Arifuttajjalli, dengan tegas menyatakan bahwa praktik tambang ilegal yang terus beroperasi secara terang-terangan tersebut mustahil terjadi tanpa adanya pembiaran, bahkan diduga kuat adanya permainan kotor antara oknum aparat dengan mafia PETI.
“Kami tidak bodoh. Mustahil tambang ilegal bisa berjalan bebas di depan mata aparat jika tidak ada ‘main mata’. Ini bukan lagi kelalaian, ini dugaan pengkhianatan terhadap hukum dan masyarakat,” tegas Muhammad Arsyad dengan nada geram.
Keduanya secara terang-terangan menuding Kapolsek Ranah Batahan telah gagal total dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. Lebih dari itu, mereka menilai sikap diam dan tidak adanya tindakan nyata justru memperkuat dugaan adanya praktik kongkalikong yang sistematis.
“Jika Kapolsek tidak tahu, maka itu bukti ketidakmampuan. Jika tahu tapi diam, maka itu bentuk keberpihakan kepada kejahatan. Dua-duanya sama-sama tidak layak dipertahankan,” lanjut Arifuttajjalli.
Mereka menilai bahwa keberadaan tambang ilegal ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak lingkungan secara brutal, mengancam keselamatan masyarakat, dan menciptakan ruang subur bagi tumbuhnya mafia tambang yang kebal hukum.
Atas kondisi tersebut, Muhammad Arsyad dan Arifuttajjalli mendesak secara keras Kapolres Pasaman Barat dan Kapolda Sumatera Barat untuk tidak lagi bermain aman dan segera mengambil tindakan tegas tanpa kompromi.
“Kami menuntut dengan tegas: COPOT Kapolsek Ranah Batahan sekarang juga! Jangan tunggu situasi semakin rusak. Jika masih dipertahankan, publik berhak curiga bahwa ada sesuatu yang sedang dilindungi,” tegas mereka.
Tidak hanya itu, mereka juga mendesak Kapolres Pasaman Barat bersama unsur FORKOPIMDA untuk segera turun langsung ke lapangan dan melakukan operasi besar-besaran dalam menertibkan seluruh aktivitas PETI di Pasaman Barat tanpa pandang bulu.
“Jangan hanya berani pada rakyat kecil, tapi lumpuh di hadapan mafia. Negara tidak boleh kalah. Jika hukum terus dipermainkan, maka kepercayaan publik akan runtuh,” tutup mereka dengan nada ultimatum.(rls/mk)