PEKANBARU – Saya tidak terkejut, ketika pengumuman suksesi kabinet Prabowo menyebut nama Jumhur Hidayat belum lama ini.
Dua bulan sebelumnya, sewaktu berkunjung ke kantor pribadinya, Jumhur sudah bilang mau dilantik jadi menteri.
Yang menarik diikuti, apakah "pindah kutub" dari mastautin pemimpin non formal ke pejabat negara merubah sosok tokoh buruh itu?
Mari kita buka lembaran awal kemunculan Sang Jumhur.
Jumhur lahir dari kancah kemenularan gerakan pembaharuan Islam di Mesir, Jazirah Arab dan anak benua India yang meluncur ke kampus kampus tanah air.
Gerakan Pan Islamisnme Abduh, Jejak Ikhwanul muslimin Al Banna yang menginspirasi Kang Imad di Masjid Salman ITB, dan perdebatan alot Bakhtiar Effendi, Daud Rasyid dan Cak Nur turut serta mengkawah Chandradimukai pemikiran Jumhur Hidayat muda. Maka sewaktu Jumhur dan rekannya menggelar aksi demo di kampus ITB tahun 1989, tampaknya itu bukan sekedar protes biasa, melainkan sebuah auman transendental, profetic mission, pekik eskatologis terhadap perbudakan manusia atas manusia.
Lintasan juang Jumhur setelah Soeharto jatuh dan ICMI lahir di bidani Wapres BJ. Habibie, justru bertahan di kanvas Proletariat. Ia tak tertarik peran struktural dengan kut PAN besutan Amin Rais ataupun masuk partai politik era reformasi.
Ia bergabung ke Celdes menemani Adi Sasono yang tunak di civil society.
Jumhur menyadari, hubungan tokoh pemimpin dengan rakyat haruslah egaliter, tak ada dinding pembatas . Antara tokoh dan massa terjalin interdependensi yang lembut, egual dan tulus
Begitulah Ghandi di india, Che Guevara atau Ali Khamenei yang mudah di jumpai dan dijangkau publik.
Gabung Struktur
Jumhur akhirnya memilih bergabung ke negara, menjadi pejabat Menteri Lingkungan Hidup. Tepat berada di jantung persilangan masalah bangsa. Disana tampak jelas pertarungan industri, buruh, rakyat pinggiran hutan dan perebutan sumberdaya alam.
Sejauh ini, kompetisi common property (barang milik bersama) yang riuh rendah itu, selalu diwarnai hegemoni, dominasi dan konspirasi pemilik modal vis a Vis petani, nelayan dan proletariat marhaenis.
Dari sinilah Jumhur sang aktivis harus pandai menempatkan badan. Terus berjalan di titian idealisme yang dibawahnya ada kerikil pragmatisme ekologis, kolesterol birokrasi serta ketidak adilan sosial yang masih menyeruak.
Jumhur bisa menyauk pengalaman mentornya Adi Sasono menteri Koperasi Era Bj. Habibie. Cukong cukong monopolistik dibuat gundah dan ketar ketir, tersebab Adi Sasono istiqamah di jalan negarawan.
Ditengah politik transaksional, barter Pemilu dengan sumberdaya alam, posisi Menteri Lingkungan Hidup adalah pertaruhan Dialektis karir dan lintasan perjuangan jumhur.
Prabowo sengaja menempatkan dia di situ. Sebagai ujian sejarah, apakah akan lahir sintesis baru peradaban ekologis Indonesia, atau lenyap selamanya. Bravo!!