mimbarku
POLITIK

Dari Teologi Gambut Sampai Eco-Jihad Tanah Melayu, Sumbangan Intelektual Dr Elviriadi Oleh : Syaifullah, M. Us

11 Apr 2026 • 23:24 WIB | admin
Bagikan:
Watermark Mimbarku

PEKANBARU - Perjuangan Dr. Elviriadi dalam menjaga ekosistem Riau bukan sekadar gerakan aktivisme lingkungan biasa, melainkan sebuah bentuk jihad ekologis yang memadukan kedalaman filosofis dengan keteguhan religiusitas. Di tengah kepungan ekspansi industri dan deforestasi, sosoknya muncul sebagai representasi intelektual yang tidak hanya berdiam di "menara gading", tetapi turun ke lumpur gambut untuk menyuarakan hak-hak alam yang sering kali dibisukan oleh kepentingan ekonomi.

Intisari Filosofis

Dr. Elviriadi memandang alam Riau bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai "ayat-ayat Tuhan" yang hidup; perjuangannya adalah bentuk ibadah eksistensial untuk menjaga marwah tanah Melayu dari kehancuran ekologis

Dimensi Filosofis dan Religiusitas

Filosofi Kosmologi Melayu Dr. Elviriadi berupaya menghidupkan kembali filosofi "Alam Terkembang Jadi Guru". Bagi beliau, hutan dan sungai di Riau adalah identitas kultural yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia Melayu. Kehancuran lingkungan berarti hilangnya akar peradaban. Beliau memandang alam secara organik, di mana setiap jengkal tanah gambut memiliki hak ontologis untuk tetap lestari.

Teologi Pembebasan Ekologis:

Secara religius, perjuangannya berakar pada konsep Khalifah fil Ardh (wakil Tuhan di bumi). Beliau memposisikan penjagaan lingkungan sebagai tanggung jawab teologis yang bersifat fardu ain. Dalam pandangannya, merusak hutan adalah bentuk kezaliman terhadap ciptaan Tuhan, dan melawannya adalah bentuk ketaatan tertinggi kepada Sang Pencipta.

Intelektualitas yang Berpihak

Beliau menunjukkan bahwa gelar akademik (Dr.) adalah alat perjuangan, bukan sekadar hiasan nama. Dengan gaya bicara yang lugas dan sering kali puitis namun tajam, beliau melakukan dekonstruksi terhadap kebijakan yang tidak pro-lingkungan, menjadikannya sosok "intelektual organik" yang menyuarakan jeritan ekosistem Riau di forum-forum ilmiah maupun di akar rumput.

Dampak dan Warisan Pemikiran

Perjuangan Dr. Elviriadi memberikan warna baru dalam gerakan lingkungan di Indonesia, khususnya di Sumatera. Beliau berhasil mengintegrasikan narasi agama ke dalam isu-isu teknis lingkungan, sehingga masyarakat awam merasa memiliki kewajiban spiritual untuk menjaga hutan mereka. Keteguhannya menghadapi berbagai tekanan menunjukkan bahwa religiusitas beliau telah mencapai tahapan ihsan-melakukan yang terbaik karena merasa selalu diawasi oleh Tuhan, bahkan ketika berhadapan dengan kekuatan modal yang besar.

Konsep Eco-Jihad

Dr. Elviriadi bukanlah sekadar jargon aktivisme, melainkan sebuah kerangka pemikiran yang berakar pada integrasi antara iman dan aksi ekologis. Beliau menerjemahkan istilah "Jihad" dalam konteks modern sebagai perjuangan sungguh-sungguh untuk melawan kezaliman terhadap alam.

Khalifah fil Ardh dan Maqasid Syariah:

Dr. Elviriadi menekankan bahwa peran manusia sebagai khalifah (wakil Tuhan) di bumi membawa mandat untuk merawat alam. Dalam pandangannya, pelestarian lingkungan adalah bagian dari Maqasid Syariah (tujuan hukum Islam), khususnya dalam menjaga keberlangsungan hidup (hifdz an-nafs) dan keturunan (hifdz an-nasl) yang terancam oleh kerusakan ekosistem.

Sinergi dengan Kearifan Lokal Melayu: Beliau mengadopsi filosofi "Alam Terkembang Jadi Guru" dan konsep "Hutan Tanah" dalam budaya Melayu. Bagi Dr. Elviriadi, lahan gambut adalah entitas sakral yang merupakan identitas dan warisan leluhur yang harus dijaga marwahnya.

Dr. Elviriadi menerjemahkan landasan teologisnya ke dalam langkah-langkah strategis yang konkret untuk melindungi lahan gambut dari eksploitasi industri.

Edukasi dan Mobilisasi Berbasis Religius: Beliau menggunakan mimbar-mimbar keagamaan dan forum komunitas untuk menyadarkan masyarakat bahwa menjaga gambut adalah bagian dari ibadah. Pendekatan ini efektif dalam membangun militansi warga lokal untuk menjaga wilayah mereka dari pembalakan liar.

Kritik Intelektual dan Kebijakan: Sebagai akademisi, beliau secara tajam mengkritisi kebijakan pemberian konsesi di lahan gambut dalam. Beliau sering menggunakan data ilmiah untuk membongkar narasi ekonomi jangka pendek yang mengabaikan biaya ekologis jangka panjang.

Jejaring Lintas Sektor: Strategi beliau melibatkan pembangunan aliansi antara lembaga adat, organisasi lingkungan, dan media massa. Beliau memposisikan diri sebagai jembatan antara kepentingan masyarakat akar rumput dengan kebijakan di tingkat nasional.

Analisis ini menunjukkan bahwa Eco-Jihad Dr. Elviriadi adalah model advokasi yang holistik, menggabungkan kekuatan iman, kearifan lokal, dan sains. Pendekatan ini berhasil memberikan legitimasi moral yang kuat bagi gerakan penyelamatan lahan gambut di Riau.

Rekomendasi Strategis:

Bagi Pemerintah: Mengintegrasikan nilai-nilai etika lingkungan dan kearifan lokal ke dalam regulasi perlindungan gambut, serta memperkuat penegakan hukum terhadap korporasi yang merusak ekosistem gambut.

Bagi Aktivis dan Komunitas Agama: Mengadopsi narasi teologis dalam edukasi lingkungan untuk menciptakan kesadaran ekologis yang lebih mendalam dan berkelanjutan di tingkat akar rumput.

Bagi Institusi Akademik: Mendorong riset-riset multidisiplin yang menghubungkan antara teologi, sosiologi, dan ilmu lingkungan untuk memperkuat basis data advokasi ekologis.

Kesimpulan

Eco-Jihad Dr. Elviriadi merupakan manifestasi dari intelektualitas profetik yang menempatkan kelestarian alam sebagai inti dari pengabdian kepada Tuhan dan kemanusiaan. Penyelamatan lahan gambut Riau melalui pendekatan ini membuktikan bahwa perjuangan lingkungan memerlukan landasan spiritual yang kokoh untuk menghadapi tekanan industri yang masif. Keberhasilan gerakan ini di masa depan sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan negara yang tegas dan kesadaran moral kolektif masyarakat

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, perlindungan, dan kekuatan lahir batin kepada Dr. Elviriadi. Kami berdoa agar beliau tetap teguh, tidak goyah oleh tekanan, dan tidak surut oleh rintangan dalam menjalankan misi "Eco-Jihad" ini. Semoga setiap langkah kaki beliau di atas tanah gambut dan setiap untaian pemikiran yang beliau suarakan menjadi amal jariyah yang tak terputus dan menjadi inspirasi bagi generasi muda Riau untuk mencintai tanah airnya.

Harapan bagi Masa Depan Ekologi: Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Dr. Elviriadi adalah cahaya bagi kegelapan krisis lingkungan saat ini. Kami berharap beliau terus menjadi kompas moral bagi kebijakan publik di Riau, memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan masa depan ekologis anak cucu kita. Teruslah berjuang, Sang Pejuang Gambut, doa kami menyertai setiap langkah perjuangan Anda.…

Login untuk menyampaikan komentar

Lanjutkan dengan Google