RIAU, PEKANBARU - Nasib warga RT OO7 Kelurahan Lubuk Gaung Kecamatan Sungai Sembilan makin tak menentu.
Setelah beraudiensi dengan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Sumatera Jl Soebrantas Panam, warga terdampak lanjut mengadu ke Walhi dan Jikalahari di Pekanbaru.
Pasalnya, nasib rumah mereka setelah pemasangan tembok tinggi yang didalamnya akan di buat gedung SBE bakal memicu dampak lingkungan serius.
"Kami tak tau, apa yang akan terjadi jika isi dalam tembok ini di bangun. Yang jelas, sekarang ini komunikasi kami dengan perusahaan loss untuk menyelesaikan ini, " ujar Aidil salah satu warga. Ahad (19/4/26).
Walau bagaimanapun, secercah harapan muncul di meja kopi Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau) melalui senyum tulus Bung Aldo Wakil Koordinator Jikalahari.
"Untuk diskusi dan masukan insyaAllah kita bisa. Ini kan masalah kenyamanan warga negara yang di jaga konstitusi, " ujar Aldo putra Langgam Pelalawan.
Setelah dari Jikalahari , anak Melayu Lubuk Gaung yang nyarios meraung itu melanjutkan pengaduan ke Wahi.
"Walhi berupaya untuk mempelajari aduan warga ini, terutama isu PLTU yang sejak dulu menuai protes warga, " imbuh pengurus Walhi.
Kuasa Masyarakat Lubuk Gaung Dr Elviriadi menguraikan langkah perjuangan ke depan.
"Selain memohon support dan sinergi dengan civil society diantaranya aktivis Walhi, Jikalahari, Yayasan Pelopor Sehati dan tokoh tokoh moralis, kita juga akan tempuh administrasi hukum lingkungan.
Karena, jawaban dari Dinas PMPTSP Dumai maupun Dinas LH Dumai, bahwa pihak perusahaan sedang mengurus izin ke jakarta.
Tentu kita akan mengambil kebijakan prosedural Administrasi dan hukum ke Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta.
Kita optimis, negara akan hadir, berimbang dan profesional dalam menyikapi hal sesederhana ini. Saya yakin, kebenaran akan tegak. Selana masyarakat dan para pembela nya Istiqamah. Allah SWT sudah menjamin bersama orang orang sabar dan teguh, " pungkas pakar lingkungan yang ikhlas gundul permanen demi hutan Sianjung.***