PEKANBARU - Ramadhan kali ini terasa berbeda. Bukan karena kenaikan suhu bumi atau yang dikenal global warming membuat kerongkongan kering. Atau karena bedug magrib jam 6.30-an sore. Tapi karena ada saudara kita yang bertempur dan gugur di bulan Ramadhan. Ya, air mata rakyat Iran dan korban sipil tak berdosa, dibombardir Israel-AS. Rakyat Iran tidak gusar. Sejarah panjang Parsia mengajarkan arti kesabaran dan nafas panjang, ketika teraju negeri mengumumkan perang.
Diksi "perang", yang membuat tensi naik dan asam lambung melonjak di banyak negara dan manusia, justru menjadi menu alternatif dalam kancah kehidupan Iran.
Dahulu Ayatullah Ruhollah Khomaini, pendiri negara Republik Islam Iran, sebelum menjalani pengasingan di Prancis pernah berpidato.
"Wahai Rakyat Iran, terus menerus dalam zikir dan perjalanan salik menuju Ilahi, sama sekali tak mempengaruhimu untuk menata negara, mengurus politik dan Izzah kaum muslimin. Jadilah laron yang terbakar dan jatuh ke tanah demi cahaya dan cita Republik Islam Iran.."
Saya membaca kemudian dari buku "Air Mata Kecemerlangan" karya Imam Khomaini itu, akibat pidato pidato heroik sang Imam, rakyat Iran tumpah ruah ke jalan. Menjemput syahid ditangan tentara Rezim Reza Pahlevi boneka Amerika dan "Savak" Israel.
Eskalasi konflik dan teror kemanusiaan yang terus meningkat di Bulan Ramadhan tahun ini, bagi Rakyat dan Tentara Iran mengingatkan memori Perang Badar, perang enjure time_penentuan keberlanjutan dakwah yang terjadi di tengah terik Ramadhan.
Ramadhan Iran, Ramadhan Orang Beriman, bukan bulan loyo dan deklarasi "tidur itu ibadah, melainkan momentum kebangkitan, pekik perjuangan, dan jihad pembebasan.
Indonesia Hubuddiya
Kenyataan sebaliknya dipertonton negara mayoritas muslim Indonesia.
Organisasi Islam sibuk dengan aset internal yang dimiliki, anggota jutaan, tapi tumpul terhadap kemungkaran.
Negeri ini punya ratusan bahkan ribuan profesor, meraih prestasi menjulang. Dicatat sebagai ilmuan berpengaruh dunia, karya ilmiah nan Sopisticated. Tetapi apa yang terjadi disekitar rumah tempat tinggalnya, dikantor nya, di masyarakatnya, di bangsa dan negara, kecut hatinya. Bimbang jiwa raganya. "Accch, yang penting awak tak terganggu sudah lah, "gumam dalam diam.
"Waltakumminkum ummatuyyad"uunailal Khoir. Ya"muru Nabil ma"ruf, wayanhau na"anil mungkar..."Tak cukup hanya amar makruf, kau harus ber-nahi mungkar. Tak perlu menunggu rudal Israil menghancurkan rumah gedong hasil " sekolah" SK PNS mu hancur berderai, atau menanti sawit, rumah petak dan ruko mu rata dibuat Scud Amerika, kau harus benci pada prilaku "safety play" (main amanmu), individualis mania-mu, ambisi duniamu, dan anti jihad perjuanganmu.
Hei ormas Islam, jangan kau jadikan Qudwah, Uswah, Dan corong teladan dari politisi tuna moral sang ketua partai yang tak pernah berpihak ke rakyat. Kok kau undang di kampusmu, di badan usahamu, untuk mendengar celoteh hipokrit tentang pentingnya jadi aktor politik. Tujuan mu mengundang nya sudah ketahuan, mau ambil Harta nya yang subhat untuk nyumbang memperluas infrastruktur Kampusmu? Aaach, sia sia kamu orang terpandang di masyarakat dan Umat Islam.
Syahdan, begitulah konfigurasi besar dalam kuantitas, gaung besar sebagai negeri penuh cendikiawan, tapi alergi dengan kata "Perjuangan dan Jihad". Betapa ngeri bagi para pecundang dan pemilik mental kerupuk, kalau berhadapan dengan orang jahil. Ketika tanah tanah dirampas dan kemanusiaan diperas, tata tertib sosial di perkosa mafia tanah dan kejahatan tambah merajalela.
Dimana kah engkau yang berkhotbah tentang Syurga, yang bicara berbusa tentang ajaran agama, ketika kejahatan dan kemungkaran menganga di depan mata?
Wajarlah Jendral Soedirman diatas tandu gerilya berucap, " Kejahatan dan ketidak Adilan berleluasa bukan karena kuat, tetapi lantaran orang baik diam dan tak berani berkata."
Rakyat Iran memang bukan rakyat Indonesia. Keduanya terpisah oleh satu prosa, " betapa mahalnya syurga, betapa mulianya syuhada. Dan betapa naifnya ciut jiwa dan hubbudinya, tetapi dianggap tiket masuk syurga. Selamat Berpuasa .Wallahualam