RIAU, PEKANBARU - Persoalan lahan di Pulau Rupat kembali menjadi sorotan. Kali ini, suara masyarakat tidak datang dari satu wilayah saja. Tiga desa Batupanjang, Tanjung Kapal, dan Darul Aman bersatu menyuarakan keresahan dan mendesak pemerintah serta aparat penegak hukum segera turun tangan.
Mengatasnamakan Solidaritas Masyarakat 3 Desa, warga meminta seluruh persoalan yang berkaitan dengan dugaan klaim atau penguasaan lahan, legalitas perkebunan, serta aktivitas pihak asing yang dipersoalkan masyarakat dibuka secara terang dan diuji berdasarkan bukti hukum.
Bagi masyarakat Rupat, persoalan tanah bukan sekadar persoalan administrasi. Di atas tanah tersebut terdapat ruang hidup, sumber ekonomi, serta sejarah masyarakat yang telah berlangsung selama bertahun-tahun
Karena itu, warga mempertanyakan: siapa yang memiliki dasar hukum atas lahan tersebut, bagaimana proses penguasaannya, dan apakah seluruh dokumen serta perizinannya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku?
Warga juga meminta aparat menelusuri dugaan aktivitas Chua Chen Heng, seorang WNA, yang dalam tuntutan masyarakat dikaitkan dengan dugaan pembukaan atau penguasaan lahan di Rupat.
Dato Lembaga Dr. Elviriadi, S.Pi., M.Si., turut menyoroti keresahan masyarakat tiga desa tersebut.
"Saya sudah mempelajari masalah ini. Jelas sang WNA Chua Chen Heng tidak berhak mengambil alih lahan masyarakat. Saya juga mengingatkan, dan bermohon dari hati nurani saya, tidak boleh pejabat camat lurah dan perangkat berpihak pada orang yang salah. Saya tengok tuan tuan ini sudah berpihak pada yang salah. Bersikap adillah. Jangan bersikap memberatkan rakyat, " ujarnya.
Dato' Dr Elviriadi dalam awal orasinya mengatakan budaya melayu menghargai tamu.
Kami orang Melayu ini menghargai tamu dan pendatang. Kecik tapak tangan nyiru kami tadahkan. Rupat ini pulau beradat. Saling hormat menghormati. Tapi apa bila kami diganggu, kami siap bertumpah darah, "pekik nya dengan suara lantang.
orasi heroik Datuk Dr Elviriadi disambut gegap gempita peserta aksi unjuk rasa di depan kantor Camat Rupat, Jumat 28 Agustus 2026.
Diakhir orasi, beliau mendoakan semoga keadilan tegak dan pemimpin amanah. Kasus ini akan berlanjut dengan demo yang lebih besar dan pejabat sewenang wenang dilaporkan ke Bupati Bengkalis Kasmarni.
"Setelah demo usai, Dato' Dr Elviriadi ditemui tokoh masyarakat Rupat. Dengan nada suara bergetar hebat, ia bertekad menggalag tanda tangan untuk mencopot pejabat Rupat yang menekan rakyatnya sendiri.
"Dah melampau. Kita kasi seribu tanda tangan ke Bupati Kasmarni. Siapa pun yang menjadi tali barut asing dan asing, kita gulung, " pungkas putra Selatpanjang berapi api.***